Akademisi Unila Ini Jelaskan Tipikal Generasi Milenial dalam Politik

Kota Metro — Handi Mulyaningsih, M.Si. Akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung diundang menjadi salah satu pembicara dalam Online Course: Resilient City yang diadakan oleh Metro Kita Center, Minggu (09/08/2020). Dalam sesi Online Course yang kedua tersebut, Handi memaparkan materi bertajuk “Politic for New Generation”.

Melalui Aplikasi Zoom dan Youtube yang dihadiri oleh ratusan peserta dari seluruh Indonesia dan mancanegara, Handi menyebutkan beberapa tipikal umum generasi milenial: generasi yang lahir antara tahun 1981-1995, atau yang saat ini berusia antara 25-30 tahun.

“Mereka (generasi milenial, red) bersikap optimistik, idealis, individualis, tumbuh besar saat era digital mulai berkembang, mencari pekerjaan yang sesuai passion, serta umumnya mudah bosan,” jelas Akademisi yang juga pernah menjabat sebagai anggota KPU Provinsi Lampung ini.

Ciri khas generasi milenial tersebut berdampak pada sikap mereka dalam dunia politik. Handi menyebutkan beberapa fakta yang diperoleh dari berbagai sumber.

“Milenial, menurut TIME, sebagai generasi yang individualistik, sangat bergantung pada teknologi, dan apatis terhadap politik. Survei CSIS dan Litbang Kompas tahun 2016, hanya 2,3% dari generasi milenial yang tertarik dengan isu sosial-politik dan hanya 11% di antaranya yang mau menjadi anggota partai politik.”

Meski punya sikap yang cenderung apatis dalam politik, keterlibatan milenial dalam berpolitik aktif tidak bisa dianggap “enteng”, sebagaimana data yang disampaikan oleh Handi.

“Di istana, ada 7 staf khusus millenial. Anggota DPD yang berusia 24-26 tahun sebanyak 10 ada satu diantaranya dari Lampung: Mbak Jihan. Di Medan ada millenial nomor urut 12 meraih kursi DPRD. Di Banyumas ada perempuan milenial berhasil menjadi anggota DPRD. Di bekasi 11 milenial anggota DPRD. Di Lampung berpengalaman memiliki gubernur dan wakil gubernur milenial, bahkan di DPRD Bandar lampung ada 50% milenial.”

Lebih lanjut, Handi menjelaskan gaya kepemimpinan yang khas dari aktor politik generasi milenial ditandai dengan beberapa ciri, yakni: “Visioner, digital mindset, kolaboratif, akrab dengan perangkat ataupun tools yang menjadi simbol keseharian publik milenial.”

Mengakhiri penjelasannya, Handi mengutip Brave Leadership Millenial dari George Bradt.

“Milenial tidak suka didikte, jadi jangan mendikte, jadilah mentor/sosok inspiratif, ajak mereka tukar pendapat. Dalam berelasi, jadikan teman, jangan kerja sendiri. Milenial suka pekerjaan yang bernilai, tidak sekedar dapat uang, harus ada visi yang jelas. Mereka juga: cenderung tidak menyukai lingkungan yang birokratis, tetapi informatif,” pungkas Handi. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini