Dilema Bekerja Dari Rumah

274

Artikel Juara 1 lomba menulis opini #Dirumahaja
Penulis: Etika Lisyana Dewi (Pendidik di SMP Cahaya Bangsa Metro)

Semenjak wabah corona atau yang sering disebut pandemi COVID-19 (corona virus desease 2019) yang pertama kali ditemukan di negeri China, kini melanda hampir di seluruh belahan bumi aktivitas manusia menjadi berubah. Indonesia pun terkena imbasnya, sampai saya menulis artikel ini, sudah ada 2491 kasus positif, 209 meninggal dan 192 pasien sembuh (cnnindonesia.com). Hal ini tentunya menambah kekhawatiran masyarakat Indonesia, begitu pula kota Metro ini. Merujuk pada keputusan Pemerintah Kota serta dinas yang terkait yang memuat status tanggap darurat serta upaya pencegahan serta peyebaran COVID-19, sehingga seluruh ASN serta pendidik diminta melaksanakan tugas dan kewajibannnya dari rumah. Selain itu, para peserta didik dari semua jenjang harus melaksanakan proses pembelajaran dari rumah dimulai dari tanggal 16 Maret 2020. Masyarakat dilarang berkerumun serta harus menjaga kebersihan diri dan lingkungan dengan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat).

Status bekerja dari rumah serta belajar dari rumah diperpanjang sampai 14 April 2020, hal inilah yang mendasari saya sebagai seorang pendidik yang saat ini bekerja dari rumah sekaligus seorang ibu untuk memaksimalkan kemampuan saya mengatur pekerjaan secara proporsional dan profesional. Tentunya, pada awalnya saya sangat merespon dengan positif serta berekspektasi tinggi untuk menyeimbangkan peran saya yang sering terhalang waktu. Minggu pertama dilema itu belum terasa, karena menikmati mengajar via daring sambil merawat anak serta mendampinginya belajar di rumah. Bagi saya, ini adalah bonus yang tidak ternilai, karena bisa bekerja sambil melihat tumbuh kembang buah hati. Saya bisa absen peserta didik sambil membalik bakwan dipenggorengan atau menjelaskan materi sambil duduk di depan nakas. Begitupun peserta didik, mereka bisa belajar sambil makan, minum serta rebahan.

Minggu ke dua, ada ganjalan di hati ini, ternyata kecanggihan teknologi masa kini yang sudah kami gunakan seperti zoom cloud meeting untuk diskusi, microsoct office 365 untuk pembuatan absen dan soal, quizizz untuk kuis dan ulangan harian, google classroom untuk kelas virtual serta pemanfaatan aplikasi lainnya tidak pernah bisa menggantikan hangatnya tatap muka serta bercanda tanpa terbatas kuota.

Alih-alih efektif, hal ini malah menambah jadwal bekerja yang kurang optimal karena terkadang kendala jaringan serta jauhnya jangkauan mata masih menjadi penghambat bekerja dan belajar dari rumah. Walaupun, pada mulanya memang merasa mengasyikan tapi seiring berjalannya waktu, rasa rindu bertemu teman sejawat semakin membuncah. Dengan himbauan pemerintah tentang physical distancing menambah perasaan manusia yang pada dasarnya makhluk sosial ini memiliki gerak yang semakin terbatas saja. Pemandangan kamar tidur dan sekitarnya membuat mata kian meredup saja, apalagi ditambah aktivitas di depan gawai yang melelahkan netra.

Sebagai ibu, bekerja dari rumah membuat skala prioritas saya menjadi dilema karena saat saya bersiap di depan layar laptop untuk mengajar, anak saya tiba-tiba minta perhatian untuk sekadar merespon pertanyaannya, menemani bermain dan lainnya. Sebagai seorang pendidik yang profesional sesuai renjana, saya tetap harus mendidik anak-anak serta tetap menjadi ibu yang baik. Hal ini tidak mudah bagi saya karena saat saya pergi bekerja, saya tidak terlalu  ‘merasa bersalah’ dengan membuat anak saya menunggu, padahal jelas sekali ada saya yang sedang bergincu menatap layar gawai.

Tentunya, hal ini mungkin saja tidak melanda bapak-bapak yang lebih fleksibel tanpa digelayuti anak-anak mereka. Namun, sisi positifnya tentu bisa dilihat dengan lebih banyak waktu membangun kedekatan antar anggota keluarga yang biasanya berpisah di saat pagi dan mungkin saja berkumpul lagi di senja hari. Peserta didik juga semakin mahir dalam berinovasi memanfaatkan teknologi. Hal ini menjadi angin segar di balik pandemi bencana non alam ini.

Merujuk pada instrusi pemerintah, tetap jaga kesehatan, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, jaga jarak aman, beraktivitas dari rumah serta memakai masker setiap ke luar rumah apabila ada hal yang mendesak, mari bersama-sama melaksanakannya. Untuk yang bekerja dari rumah, pekerjaan itu tetap, yang berbeda hanya tempatnya saja. Lantas, kita tidak menjadi lupa menyapa tetangga, Semoga, wabah COVID-19 ini segera berakhir, sehingga masyarakat bisa tenang ke luar rumah tanpa bayang-bayang virus yang mudah menular ini.