Lukman Hakim: Jejak Anak Kolonis

45

Dari Buruh Kasar Hingga Jadi Walikota Dua Periode

Jika diibaratkan sebagai sebuah perjalanan, karier yang dicapai Lukman berawal dari titik nol. la meniti karier dari titik paling rendah, sebagai pekerja kasar. Bahkan, sebelum menjadi PNS, Lukman bekerja secara serabutan, sebagai buruh penggelondong dan penyerut kayu di hutan pernah dilakoninya.

Sebelum bekerja sebagai buruh penggelondong dan penyerut kayu di hutan, Lukman juga pernah mencoba mencecap pendidikan tinggi di Yogyakarta. Ia tercatat sebagai salah satu mahasiswa Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Yogyakarta. Namun, impiannya kandas lantaran kondisi ekonomi keluarga yang sering kekurangan. Di tahun kedua dirinya kuliah, Lukman harus rela mengubur dalam-dalam impiannya menjadi sarjana. Hari-hari Lukman setelah pulang dari Yogyakarta hanya mengurung diri di kamar, dia banyak merenung, merasa malu dengan keluarga dan tetangganya karena tidak bekerja juga tidak sekolah.

Karier birokrasi Lukman dimulai saat dirinya menjadi tenaga honorer di Dinas Kesehatan Lampung Tengah. Dia bertekad untuk mengumpulkan biaya agar bisa kuliah. Pekerjaan sebagai tukang ketik dan antar surat dia lakoni dengan tekun. Usaha kerasnya membuahkan hasil, akhirnya Lukman diangkat menjadi PNS dan bisa menyelesaikan jenjang sarjananya.

Ketika sudah diangkat menjadi PNS pun Lukman masih menekuni ‘profesinya’ sebagai sopir mikrolet. Kerja keras, ketekunan, dan kesabaran Lukman Hakim berbuah manis. Tercatat Lukman pernah menjabat sebagai Kepala Seksi Penyusunan Rencana di Bappeda Lampung Tengah, lalu sebagai Kepala Seksi Industri Jasa dan meningkat menjadi Kepala Bidang Sosial Budaya tahun 1991. Pembawaan Lukman yang kalem, luwes dan supel dalam bergaul mengantarkannya untuk menjabat sebagai Kepala Humas Pemda Lampung Tengah.

Tanpa disangka, tahun 1988, Lukman diangkat menjadi Camat Seputih Raman. Pada 1993, Lukman diangkat sebagai Sekretaris Kota Administratif Metro. Di sinilah Lukman mulai banyak belajar tentang tata pemerintahan. Kariernya terus menanjak hingga akhirnya la dipercaya warga Kota Metro menjadi Walikota selama dua periode, yaitu periode 2005-2010 dan 2010-2015. Kalau ditambah dengan masa jabatannya sebagai Wakil Walikota Metro pada periode 2000-2005, maka Lukman Hakim menjadi kepala daerah di Lampung yang menjabat paling lama.

Buku ini tidak hanya menguraikan jejak langkah Lukman Hakim, seorang anak keturunan kolonis, yang sukses menjadi orang pertama di Metro. Lebih dari itu, buku ini juga memotret sisi-sisi lain humanisme seorang anak manusia. Menjadi kepala daerah dengan perjuangan dari titik nol, dari proses yang panjang sebagai pekerja kasar, pesuruh, dan pegawai rendahan adalah hal yang luar biasa. Tidak semua orang bisa atau berani melalui perjalanan serupa itu. Itu semua dilalui Lukman Hakim, anak pegawai rendahan, yang karena kerja kerasnya akhirnya sukses memimpin daerahnya.

Bukan semata-mata soal cerita sukses yang ingin ditonjolkan buku ini. Buku ini lebih diharapkan sebagai dokumentasi sosial yang bisa menginspirasi banyak orang, terutama generasi muda, untuk selalu bekerja keras dan meyakini cita-cita akan tercapai jika tekun bekerja, selalu belajar, dan senantiasa pasrah kepada Yang Maha Memberi Hidup.

Infomasi Buku:
Judul: Lukman Hakim: Jejak Anak Kolonis
Penulis: Oyos Saroso, HN dan Ridwan Saifuddin
Penerbit: Perhimpunan Lampung Media Center
Tahun Terbit: Cet 2 September 2013