Solusi Banjir Perkotaan

Opini: Dr.Eng. Fritz Akhmad Nuzir, S.T., M.A.

Musim penghujan belum menunjukkan tanda-tanda akan segera usai. Walaupun saat ini kita sudah memasuki awal bulan Maret. Fenomena alam yang sebenarnya merupakan siklus alami tahunan ini seperti berubah menjadi ancaman bagi masyarakat yang tinggal di perkotaan masa kini.

Menyebut fenomena alam sebagai ancaman sesungguhnya sangat tidak tepat karena sesungguhnya penyebab intensitas hujan yang semakin tinggi dan banjir perkotaan (urban flood) yang kerap terjadi salah satunya adalah karena perubahan yang terjadi pada bentang alam di wilayah perkotaan. Perubahan yang disebabkan oleh masyarakat perkotaan itu sendiri.

Wilayah perkotaan, atau yang disebut juga sebagai kawasan urban, banyak mengalami tekanan pembangunan berupa perubahan guna lahan yang tak terkendali, perubahan struktur fisik permukaan tanah dan sungai, berkurangnya pepohonan dan ruang terbuka hijau sebagai area resapan, dan sebagainya. Sehingga perlu segera dilakukan tindakan mitigasi dan adaptasi untuk merespon tekanan-tekanan tersebut oleh pemerintah dan semua pemangku kepentingan di wilayah perkotaan (urban stakeholder) sebagai solusi terhadap banjir perkotaan.

Tindakan mitigasi berfokus pada sumber permasalahan dan penyebabnya. Yang pertama, perlu segera dilakukan evaluasi menyeluruh dan perbaikan terhadap kapasitas dan kinerja sistem drainase kota sebagai suatu jaringan dalam menghadapi kondisi terkini dengan curah hujan yang tinggi. Evaluasi ini kemudian ditindaklanjuti dengan pemutakhiran serta penerapan Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) kota secara ketat dan terukur melalui rencana-rencana detil yang mendukung.

Penyediaan dan perlindungan Ruang Terbuka Hijau (RTH) formal dan non formal baik berupa taman, embung, lahan pekarangan, maupun area persawahan harus terus didorong dan dikawal terus implementasinya. Agar tidak sekedar berupa kegiatan seremonial dan formalitas saja, mitigasi yang satu ini sangat perlu didukung dengan adanya perencanaan sistematis yang berdasarkan kajian ilmiah dan kepatuhan dalam melaksanakannya. Dilengkapi dengan penerapan prinsip-prinsip ramah lingkungan yang ketat terhadap pengembangan kawasan permukiman baru yang harus mematuhi pedoman tata guna lahan yang ada.

Mitigasi yang tak kalah penting adalah pengelolaan sampah dan pengawasan yang diperketat terutama dalam tahapan pengumpulan sampah agar tidak terjadi pembuangan sampah ilegal khususnya di sungai dan saluran drainase.

Adapun tindakan-tindakan adaptasi yang berfokus pada dampak yang ditimbulkan diawali dari peningkatan pelaksanan kegiatan dan upaya pendidikan lingkungan hidup dan bencana alam kepada masyarakat agar siap dalam mencegah dan mengantisipasi perubahan lingkungan perkotaan dan fenomena alam.

Disusul dengan penyusunan dan penerapan kebijakan-kebijakan pemerintah kota yang selalu memperhatikan dan merespon dampak permasalahan perubahan iklim di semua bidang baik sosial, ekonomi, budaya, pendidikan, infrastruktur dan sebagainya.

Tindakan-tindakan mitigasi dan adaptasi yang telah dijabarkan bertumpu kepada tiga komponen. Yang pertama, pelakunya yaitu seluruh pihak yang terkait dalam konsep pentahelix yaitu akademisi, pelaku bisnis, masyarakat umum, pemerintah, dan media. Yang kedua adalah peraturan dan institusi yang secara legal dapat menggerakkannya di negara hukum ini. Dan yang ketiga adalah infrastruktur dan fasilitas. Ini adalah tiga komponen penting dalam konsep Kota Tangguh (Resilient City).

Penulis: Dr.Eng. Fritz Akhmad Nuzir, S.T., M.A. (Kepala UBL SDGs Center)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini